Oct
07
2011
0

Hasil bacaan: “Supermuslimah”

Bulan agustus kemarin seorang teman saya sibuk mempromosikan buku yang baru saja diterbitkan oleh Gamais Press, karena tertarik saya mencoba membelikan untuk kakak saya. Hingga suatu hari beliau sang penulis meminta tolong secara langsung untuk membantu mempromosikan buku tersebut di kampus saya. Saya menyanggupinya, namun berhubung saya belum pernah membacanya, saya putuskan untuk membaca terlebih dahulu. (more…)

Written by Gilang Adhitya in: Intisari Buku |
Sep
28
2011
0

Hasil bacaan: “Keydo”

“Sebuah Novel Tentang Perempuan, Cinta, dan Para Pahlawan di Jalan Sunyi”


Sebuah novel yang lumayan unik menurut saya, karena dalam novel ini tidak hanya membahas habis tentang si tokoh utama, namun juga orang – orang di sekitarnya, orang – orang yang berkaitan dengan jalan hidup yang dilaluinya, sehingga terkesan dalam novel ini ada lebih dari 1 tokoh utama. Mereka yang diceritakan di dalam novel ini  pantas disebut “pahlawan di jalan sunyi” dikarenakan apa yang mereka lakukan merupakan sebuah perjuangan untuk masyarakat di sekitarnya, kontribusi yang nyata namun sangat jauh dari apresiasi dan penghargaan yang pantas. Bahkan beberapa dari mereka dicemooh karena apa yang mereka lakukan itu.


Penyusunan cerita yang apik di tiap babnya, membuat pembaca mudah memahami apa yang ingin disampaikan oleh penulis. Sekaligus masing – masing tokoh diberikan ruang tersendiri, bab tersendiri untuk diceritakan habis mengenai dirinya, masa lalunya, apa yang dilakukanya, dan lain sebagainya, sekaligus apa hubungan sang tokoh dengan Keydo sendiri. Cerita yang dirangkai sedemikian rupa sehingga mampu memadukan kearifan dari barat sampai ke timur Indonesia, hingga ke komunitas Amish yang zuhud di Amerika Utara, sungguh menginspirasi dan memberikan semangat bagi pembaca untuk mampu berjuang dan berkarya seperti mereka yang sampai mengorbankan harta, waktu, bahkan keluarga, dan nyawa sekalipun.


Salah satu pilihan buku yang saya rekomendasikan untuk dibaca bagi kalian yang teguh berjuang mempertahankan idealisme, kesabaran dalam menghadapi cercaan dari orang sekitar, hingga mencapai tujuan mulia yang diharapkan bisa dirasakan oleh orang banyak, tidak hanya untuk segelintir orang apalagi untuk kepentingan sesaat.

Written by Gilang Adhitya in: Intisari Buku |
Sep
28
2011
0

Hasil bacaan: “Romance of The Three Kingdom”

RotTK0001

Volume I Bab I

Menceritakan tentang sejarah negeri china dimana masa itu adalah akhir masa dinasti HAN. Kemudian diceritakan tentang awal mula dari 3 elit yang nantinya akan memimpin 3 kerajaan besar yang saling terlibat perang.

Liu Pei (Liu Bei) atau lebih dikenal dengan Liu Yuan-te, Dia adalah seorang keturunan pangeran yang ayahnya adalah cucu dari kaisar Ching. Sejak dari kecil pamannya menyadari bahwa dia bukan anak biasa seperti teman teman sepermainannya. Pertemuannya dengan Chang Fei (Zhang Fei) atau lebih dikenal dengan I-te, dan Kuan Yu (Guan Yu) atau lebih dikenal dengan Yun-ch’ang ketika pecah pemberontakan bisa di bilang seperti telah direncanakn. Ketiganya memiliki visi yang serupa, dan akhirnya mereka menjalin sebuah ikatan persaudaraan dibawah janji yang mereka ucapkan.

Ketiganya pun mempersiapkan diri untuk mengikuti pasukan perang, dimana Liu Pe dibuatkan sepasang pedang kembar, Kuan Yu dibuatkan pedang melengkung bergagang panjang yang diberi nama “Black Dragon” atau “Cold Beauty” dan Chang Fei membuat sendiri tombak sepanjang 18 kaki untuknya. Dalam medan pertempuran, formasi yang selalu mereka gunakan adalah Liu Pei ditengah, dan kedua saudaranya di sisi kiri dan kanan. Quote pertama yang saya dapat setelah pertempuran yang menakjubkan dari Chang Fei dan Kuan Yu ketika menghabisi Teng Mou dan pemimpin pasukan pemberontak.

“Two heroes new to war’s alarms, Ride boldly forth to try their arms. Their doughty deeds three kingdoms tell, And poets sing how these befell.”

Dan ketika pertempuran di perfektur Chingchou melawan pasukan pemberontak yang jumlahnya jauh lebih banyak. Mereka menyusun strategi dimana Liu Pei bersama pasukan utama, memancing musuh untuk mengikuti mereka dan menggiringnya ke bukit dimana disana kedua saudaranya bersama pasukan sisanya telah menunggu dan menyergap mereka. Alhasil pasukan pemberontak terkepung dari 3 arah dan dengan mudah dikalahkan

“Tho fierce as tigers soldiers be, Battels are won by strategy. A hero comes, he gains renown, Already destined for a crown”

Ts’ao Ts’ao (Cao Cao) atau lebih dikenal dengan Ts’ao Meng-te, anak dari Ts’ao Sung yang telah lahir dari keluarga Hsiahou. Semasa muda, ia telah menyukai berburu dan senang dalam musik dan tari. Dia cerdas, labil dan penuh tipu muslihat [licik]. Seiring waktu orang orang berkata bahwa, pemberontakan telah tiba dan hanya orang dengan kemampuan luar biasa yang mampu mengembalikan kedamaian, dan dia adalah Ts’ao Ts’ao, dan Ho Yung dari Nanyang berkata bahwa, dinasti Han akan runtuh dan yang bisa mengembalikan kedamaian hanya dia. Dan ketika Ts’ao Ts’ao meminta nasehat kepada orang bijak, Ia berkata bahwa, Ts’ao Ts’ao mampu untuk memerintah dunia, namun cukup jahat untuk mengacaukanya.

Memulai karirnya setelah lulus pada umur 20 tahun di distrik dekat Loyang. Setelah berbagai peristiwa, tidak ada yang berani menantangnya dan namanya ditakuti. Ketika pemberontakan pecah, Ts’ao Ts’ao mendapatkan gelar Chi-tu-yu dan diizinkan untuk memimpin lima ribu pasukan untuk membantu pertempuran di Yingch’uan.

Written by Gilang Adhitya in: Intisari Buku |

Powered by WordPress. Theme: TheBuckmaker