May
10
2012

Why Agatha Christie? Why Hercule Poirot?

Saya rasa, bagi kita yang sering membaca buku sudah tidak asing lagi dengan nama ini. Ya, Agatha Christie… atau sering dijuluki sebagai “Queen of Crime”, salah seorang novelis zaman pasca perang dunia pertama yang telah menuliskan begitu banyak novel bertema kriminalitas dan pembunuhan dengan beberapa tokoh detektif yang diciptakan olehnya seperti Poirot, Miss Marple, Tommy and Tuppence, Parker Pyne… dan lainnya.

Wanita ini telah membuat dunia takjub dengan novel novel yang ditulisnya, dengan penggambaran tiap cerita yang dibuatnya, karakter karakter yang diciptakannya, sehingga layaklah ia jika disandingkan dengan salah seorang novelis detektif ternama, Sir Arthur Ignatius Conan Doyle, pengarang Sherlock Holmes.

Salah satu tokoh ciptaannya yang sangat menarik perhatian saya adalah Hercule Poirot. Seorang detektif asal belgia yang setelah masa perang menghabiskan waktunya di inggris untuk menjadi detektif konsultan. Ia mudah dikenali dari perawakannya yang kecil, kepalanya yang berbentuk telur, kumisnya yang tertata rapi, kebiasaan dandannya yang necis, obsesinya akan kerapian dan keteraturan. Ia akan sangat merasa terganggu jika bola mata hijaunya menemukan ketidakteraturan bahkan sekecil kecilnya. Hanya satu kekurangannya yaitu ia penderita mabuk laut yang membuatnya mengabaikan/kehilangan segala hal tentang keteraturan yang menjadi prinsipnya.

Saya sering membandingkan antara Hercule Poirot dan Sherlock Holmes, yang boleh saya bilang keduanya merupakan ‘karakter terbaik’ yang diciptakan oleh masing masing. Keduanya memang sengaja diciptakan sebagai detektif terbaik yang mampu menyelesaikan kasus kasus tersulit yang bahkan tidak pernah terbayangkan akan bisa terselesaikan. Dengan kemampuan analisis masing masing yang khas, mereka bisa mengejutkan setiap mata yang membaca kisah kisah penyelesaian kasus mereka.

Jika boleh saya bilang, Agatha Christie dan Sir Arthur Conan Doyle saling ‘bertarung’ dengan kedua karakter ini. Sangat terlihat dari metode penyelesaian kasus dari masing masing karakter yang saling bertentangan. Poirot lebih menekankan pada ‘penggunaan sel sel kelabu’, logika dan psikologi kasus yang harus cocok dengan semua fakta yang ditemukan, sementara Holmes lebih menekankan pada penyelidikan detail seperti jejak kaki, sidik jari, forensik dan penyamaran untuk memperoleh informasi. Metode Holmes dikatakan ‘kuno’ oleh Poirot sebab untuk apa seorang detektif berlelah-lelah mencari/mengendus seperti anjing pencari sementara ia memiliki ‘sel – sel kelabu’ yang mampu digunakan untuk menyusun semua fakta yang ditemukan menjadi sebuah pemecahan masalah.

Metode yang digunakan oleh Poirot ini yang membuat saya sangat tertarik sekaligus beberapa kali mengejutkan saya. Bagaimana tirai tirai misteri dari sebuah kejadian bisa diungkap hanya dengan kemampuan merangkai fakta dalam ‘sel sel kelabu’ itu dan dengan cara yang sama sekali tidak pernah dibayangkan oleh siapapun. Keunikan dan kemampuan yang berbeda ini yang membuat saya sangat senang membaca tiap tiap kasus yang diselesaikan olehnya. Sering bahkan saya mencoba dengan keras berfikir, menebak kelanjutan cerita dengan metode yang serupa, namun tak jarang hasil analisis yang saya lakukan tidak tepat atau masih kurang memiliki dasar yang menguatkan. Namun itulah yang membuat saya menikmatinya.

Entah mengapa, beberapa kali saya merasa ‘bisa’ menjadi seorang Hercule Poirot, menyelesaikan masalah dengan metode yang ia lakukan. Ini memang hanya obsesi pribadi yang terkesan ‘aneh dan tidak biasa’, namun saya yakin beberapa hal yang saya temukan disini bisa menginspirasi diri saya dan ada manfaat yang bisa saya ambil. Bagaimanapun saya akan terus berusaha untuk mengkoleksi semua novel dengan Hercule Poirot sebagai karakter detektifnya.


List cerita Hercule Poirot yang saya dapat dari http://agathachristie.com

*Sudah saya baca


Written by Gilang Adhitya in: Berbagi,Inspirasi |

No Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment

Powered by WordPress. Theme: TheBuckmaker